Oleh habib
Luthfi Bin Yahya
Dalam suatu kesempatan, saya bersyukur
mendapatkan pencerahan dari Rais ‘Am Jam’iyah Ahlu Thariqah
al-Mu’tabarah an an-Nahdliyah (JATMAN)
Al-Habib Luthfi Bin Yahya yang
merupakan abah nya masyarakat Pekalongan.
Dalam suatu dialog beliau memberikan wajangan kepada
kita semua tentang cara menyikapi permasalahan yang ada dalam kehidupan kita
ini, khususnya ketika kita terbelenggu oleh banyaknya Hutang yang menimpa kita.
Kurang lebih beginilah penggalan
wejangan beliau kepada jama’ah untuk menyikapi hal itu.
“Dalam kehidupan ini, setiap orang pasti
menghadapi permasalahan. Dan setiap masalah, tidak ada yang tidak ada solusi.
Apalagi jika orang itu mau mengakui kekurangan nya dan Insya Allah ada jalan
keluarnya. “
Siapa sih orang yang ingin hidupnya
dipenuhi permasalahan. Tetapi itu justru mendewasakan seseorang. Bahkan memperkukuh
dan memperkuat jiwanya.
Tetapi terkadang kita tidak mau
menyadari kekurangan kita. Kita takut dikatakan tidak mampu. Emosi kita jadi
tidak terkendali, rasa ego dan gengsi jadi tidak pada tempatnya. Sehingga kita
tidak dapat memperhitungkan langkah-langkah kedepan. Akhirnya segala
permasalahan bertumpuk.
Tidak sedikit rumah tangga yang
retak karena masalah utang piutang. Insya Allah itu akan mudah kita atasi kalau
kita tarik ke belakang, Introspeksi diri.
Mari kita tata kembali masalah yang
mengakibatkan ketidakharmonisan keluarga atau rumah tangga. Kita cari akar
permasalahannya. Dan kuncinya cuman satu, belajarlah menerima pembagian rezeki
dari Allah SWT, plus tidak melupakan ikhtiar untuk mencari nilai tambah. Tetapi,
tetap berusaha sesuai kemampuan.
Jangan mudah terpengaruh oleh keadaan
yang sebenarnya kita belum mampu untuk melangkah.
Yang Kedua, Muhasabah, perhitungan. Perhitungkan penggunaan hasil kita
sehari-hari, entah itu dalam dunia perdagangan maupun gaji. Jangan mau
dikendalikan oleh ego maupun emosi. Perhitungkanlah bagaimana nanti kedepannya.
Ketiga, hindari sikap saling
menyalahkan. Kita cari solusi bersama-sama, supaya cepat teratasi.
Selanjutnya, masalah ibadah. Ibadah adalah
suatu kewajiban seorang hamba kepada Tuhannya. Adapun problem yang kita hadapi
merupakan pendorong atau pengingat agar kitameningkatkan ketaatan dan ketaqwaan
kita kepada Allah SWT dan Rasul-Nya.
Tahajjud kita bukan karena kita
menginginkan sesuatu. Sholat hajat kita pun bukan hanya karena kita mempunyai
hajat tertentu. Karena sholat Tahajjud dan Hajat adalah bagian dari ibadah
sunnah yang perlu kita kerjakan, sekalipun kita tidak mempunyai keinginan dan
hajat.
Kenapa mesti melakukan sholat Hajat? Untuk
menyadarkan kita bahwa kita ini hamba Allah yang banyak kelemahannya, dan hanya
Allah lah tempat kita bersandar, sekalipun itu dalam keadaan berkecukupan.
Namanya juga hamba, tentu ada kelebihan
dan kekurangan. Baik yang kita ketahui maupun yang tidak. Maka, dalam
menjalankan sholat hajat, kita juga harus fokus untuk mengikuti jejak
Rasulullah SAW. Bagitu juga dalam menjalankan sholat Dhuha, bukan untuk
menggapai rezeki saja. Tapi sholat Dhuha adalah suatu sunnah dalam mengikuti
jejak Rasulullah SAW.
Jangan Sampai kita beribadah seperti
orang yang menagih hutang. Setelah kita menjalankan Tahajjud, kita menuntut,
kenapa do’a kita tidak dikabulkan oleh Allah SWT.
Do’a adalah Do’a, menjalankan sunnah
adalah sunnah sedang sunnah itu untuk mendorong agar do’a kita cepat diijabah
oleh Allah. Andai toh belum diijabah, apakah kita harus meninggalkan shalat
sunnah, ataukah kita harus menuntut karena telah menjalankan shalat sunnah? Tentu
tidak.
Cobalah kita ubah niat beribadah
tersebut dan kita tata kembali. Insya Allah, nanti akan terpecahkan dan Allah
Ta’ala akan memberikan petunjuk.
Nah, tentang pembinaan anak, seharusnya
ada hal-hal yang dilakukan sedini mungkin. Bahkan jauh sebelum menikah. Banyak orang
yang mengabaikan suatu do’a yang seharusnya dipanjatkan kepada Allah SWT bahkan
saat belum berumah tangga.
Contoh do’anya, “Ya Allah, bilamana aku
kelak mempunyai keturunan, jadikanlah anak-anakku itu Hamba yang Shalih.”
Tidak ada suatu panah yang tidak ditarik
busur panahnya itu akan bisa melesat. Kecuali orang yang mau menarik mundur,
pasti panah itu jauh rentangannya...
Semoga Allah SWT memudahkan kita dalam menjalankan suatu urusan dan senantiasa menambahkan keberkahan bagi kita semua.
Amiin..

0 komentar:
Posting Komentar