Rabu, 10 Desember 2014

BAGAIMANA MENYIKAPI HUTANG KITA MENURUT ISLAM dan ULAMA’?

Oleh habib Luthfi Bin Yahya

  Bissmillahirrohmanirrohim.
Dalam suatu kesempatan, saya bersyukur mendapatkan pencerahan dari Rais ‘Am Jam’iyah Ahlu Thariqah al-Mu’tabarah an an-Nahdliyah (JATMAN)  Al-Habib Luthfi Bin Yahya yang merupakan abah nya masyarakat Pekalongan. 

Dalam  suatu dialog beliau memberikan wajangan kepada kita semua tentang cara menyikapi permasalahan yang ada dalam kehidupan kita ini, khususnya ketika kita terbelenggu oleh banyaknya Hutang yang menimpa kita.

Kurang lebih beginilah penggalan wejangan beliau kepada jama’ah untuk menyikapi hal itu.

“Dalam kehidupan ini, setiap orang pasti menghadapi permasalahan. Dan setiap masalah, tidak ada yang tidak ada solusi. Apalagi jika orang itu mau mengakui kekurangan nya dan Insya Allah ada jalan keluarnya. “

Siapa sih orang yang ingin hidupnya dipenuhi permasalahan. Tetapi itu justru mendewasakan seseorang. Bahkan memperkukuh dan memperkuat jiwanya.

Tetapi terkadang kita tidak mau menyadari kekurangan kita. Kita takut dikatakan tidak mampu. Emosi kita jadi tidak terkendali, rasa ego dan gengsi jadi tidak pada tempatnya. Sehingga kita tidak dapat memperhitungkan langkah-langkah kedepan. Akhirnya segala permasalahan bertumpuk.

Tidak sedikit rumah tangga yang retak  karena masalah utang piutang.  Insya Allah itu akan mudah kita atasi kalau kita tarik ke belakang, Introspeksi diri.
Mari kita tata kembali masalah yang mengakibatkan ketidakharmonisan keluarga atau rumah tangga. Kita cari akar permasalahannya. Dan kuncinya cuman satu, belajarlah menerima pembagian rezeki dari Allah SWT, plus tidak melupakan ikhtiar untuk mencari nilai tambah. Tetapi, tetap berusaha sesuai kemampuan.

Jangan mudah terpengaruh oleh keadaan yang sebenarnya kita belum mampu untuk melangkah.

Yang Kedua, Muhasabah, perhitungan. Perhitungkan penggunaan hasil kita sehari-hari, entah itu dalam dunia perdagangan maupun gaji. Jangan mau dikendalikan oleh ego maupun emosi. Perhitungkanlah bagaimana nanti kedepannya.

Ketiga, hindari sikap saling menyalahkan. Kita cari solusi bersama-sama, supaya cepat teratasi.
Selanjutnya, masalah ibadah. Ibadah adalah suatu kewajiban seorang hamba kepada Tuhannya. Adapun problem yang kita hadapi merupakan pendorong atau pengingat agar kitameningkatkan ketaatan dan ketaqwaan kita kepada Allah SWT dan Rasul-Nya.
Tahajjud kita bukan karena kita menginginkan sesuatu. Sholat hajat kita pun bukan hanya karena kita mempunyai hajat tertentu. Karena sholat Tahajjud dan Hajat adalah bagian dari ibadah sunnah yang perlu kita kerjakan, sekalipun kita tidak mempunyai keinginan dan hajat.

Kenapa mesti melakukan sholat Hajat? Untuk menyadarkan kita bahwa kita ini hamba Allah yang banyak kelemahannya, dan hanya Allah lah tempat kita bersandar, sekalipun itu dalam keadaan berkecukupan.

Namanya juga hamba, tentu ada kelebihan dan kekurangan. Baik yang kita ketahui maupun yang tidak. Maka, dalam menjalankan sholat hajat, kita juga harus fokus untuk mengikuti jejak Rasulullah SAW. Bagitu juga dalam menjalankan sholat Dhuha, bukan untuk menggapai rezeki saja. Tapi sholat Dhuha adalah suatu sunnah dalam mengikuti jejak Rasulullah SAW.

Jangan Sampai kita beribadah seperti orang yang menagih hutang. Setelah kita menjalankan Tahajjud, kita menuntut, kenapa do’a kita tidak dikabulkan oleh Allah SWT.
Do’a adalah Do’a, menjalankan sunnah adalah sunnah sedang sunnah itu untuk mendorong agar do’a kita cepat diijabah oleh Allah. Andai toh belum diijabah, apakah kita harus meninggalkan shalat sunnah, ataukah kita harus menuntut karena telah menjalankan shalat sunnah? Tentu tidak.

Cobalah kita ubah niat beribadah tersebut dan kita tata kembali. Insya Allah, nanti akan terpecahkan dan Allah Ta’ala akan memberikan petunjuk.
Nah, tentang pembinaan anak, seharusnya ada hal-hal yang dilakukan sedini mungkin. Bahkan jauh sebelum menikah. Banyak orang yang mengabaikan suatu do’a yang seharusnya dipanjatkan kepada Allah SWT bahkan saat belum berumah tangga.

Contoh do’anya, “Ya Allah, bilamana aku kelak mempunyai keturunan, jadikanlah anak-anakku itu Hamba yang Shalih.”
Tidak ada suatu panah yang tidak ditarik busur panahnya itu akan bisa melesat. Kecuali orang yang mau menarik mundur, pasti panah itu jauh rentangannya...

Semoga Allah SWT memudahkan kita dalam menjalankan suatu urusan dan senantiasa menambahkan keberkahan bagi kita semua.
Amiin..




0 komentar:

Posting Komentar